Sunday, April 11, 2021

Menhan Prabowo Hadir di Peluncuran Prototipe Jet Tempur Pionir Korsel

 

Menhan Prabowo di Korea Selatan (dok. Kemhan)


Setelah menempuh lebih dari satu dekade, akhirnya Korsel mampu memamerkan prototipe jet tempur yang mereka buat sendiri dan dinamakan Korea Fighter Xperiment (KF-X). Acara peluncuran prototipe dibuka langsung oleh Presiden Moon Jae-In dan dihadiri Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada Jumat (9/4/2021).


Prabowo, mewakili Presiden Joko Widodo "Jokowi", menghadiri acara peluncuran di Negeri Ginseng tersebut. Seperti diketahui sejak 2010, Indonesia juga menandatangani kesepakatan untuk membantu 20 persen pendanaan pembangunan KF-X.


Harian Korea Selatan, Yonhap, Kamis 8 April 2021 mengabarkan, pengembangan jet tempur pionir Negeri Ginseng itu menelan biaya US $ 7,9 miliar atau setara Rp. 115 triliun (US $ 1 = Rp. 14.561). Artinya Indonesia setuju menanggung hampir Rp. 10 triliun dari proyek tersebut.


Presiden Jokowi mengucapkan selamat kepada warga Korea Selatan melalui video.


“Sejak tahun 2010, Indonesia telah menandatangani kesepakatan kerja sama pengembangan KF-X dan IF-X untuk memenuhi kebutuhan alutsista angkatan bersenjata dari kedua negara untuk jangka waktu 30-40 tahun ke depan. Karena itu saya mengucapkan selamat kepada Pemerintah Korea Selatan atas peluncuran prototipe pertama,” kata Jokowi dalam pesan videonya.


Kapan jet tempur akan tiba di Indonesia?


Korea Selatan adalah negara kedelapan di dunia yang mengembangkan jet tempur supersonik


Dalam pidatonya, Presiden Moon mengatakan sangat bangga karena Korea Selatan berhasil mengembangkan prototipe pertama jet tempur KF-X. Jet tempur tersebut dikembangkan di dalam negeri di Korea Selatan dan menggunakan teknologi Negara Ginseng.


"Ketika sudah melewati tes penerbangan, maka produksi dalam jumlah massal akan dimulai," kata Moon seperti dikutip stasiun televisi Arirang.


Ia menargetkan bisa menjual 40 unit jet tempur KF-X pada 2028. Kemudian, produksinya akan ditingkatkan menjadi 120 pada 2032.


“Kini kita menjadi negara ke delapan yang mampu memproduksi jet tempur supersonic di dalam negeri. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa di industri pertahanan kita,” ucapnya lagi.


Presiden Moon mengucapkan terima kasih atas dukungan RI yang ikut bertanggung jawab atas pembiayaan


Dalam forum tersebut, Presiden Moon juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah ambil bagian dalam pengembangan jet tempur KF-X. Bahkan, Moon meminta hadirin memberikan penghormatan kepada Menteri Pertahanan Prabowo yang telah hadir.


“Kami akan terus bermitra dengan Indonesia (dalam pengembangan jet KF-X) hingga semua proses produksi rampung dan dijual ke negara ketiga,” kata Moon.


Ia juga menjelaskan, jet tempur pionir tersebut diberi nama KF-X 21 karena merupakan realisasi komitmen pengamanan wilayah udara Korea Selatan di abad ke-21. Disebut juga Borame karena merupakan lambang Angkatan Udara Korea Selatan.


“Jet tempur ini akan menjadi batu loncatan yang besar bagi AU kita sebab dapat terbang 1,8 kali lebih cepat dari kecepatan suara dan dapat mengangkut beban maksimum hingga 7.700 kilogram serta dilengkapi kemampuan untuk manuver berperang. Selain itu, jet tempur ini juga bisa digunakan untuk menetralisasi musuh baik di darat dan laut," katanya.


Ada kekhawatiran Indonesia tidak lagi berminat melanjutkan pembuatan jet tempur KF-X, karena telah menunggak pembayaran 500 miliar Won atau setara Rp 6,5 triliun pada Agustus 2020. Sebelumnya, Republik Indonesia sudah membayar dana senilai 272,2 miliar Won atau setara dengan Rp 2,9 triliun.


Namun, kekhawatiran tersebut sirna saat melihat Prabowo hadir pada acara peluncuran prototipe KF-X hari ini.


Mantan Wakil Menteri Pertahanan RI sempat menyebut proyek jet tempur KF-X minim transfer teknologi


Terkait proyek pembuatan jet tempur KF-X, mantan Wakil Menteri Pertahanan, Sakti Wahyu Trenggono blak-blakan kepada media. Meski tidak secara eksplisit, dia menilai Indonesia tidak mendapatkan keuntungan berarti dari kerja sama ini.


"KF-X itu kan pesawat tempur, Indonesia lalu ngirim engineer ke Korea Selatan. Ini saya mempelajari. Kita mesti spending US$2 miliar, lalu ujungnya kita dapat satu prototipe," kata Trenggono pada 2 Maret 2021.


Ternyata, kata dia, Indonesia belum memiliki kepemilikan penuh atas prototipe tersebut. Indonesia hanya mendapat kepemilikan minoritas, yakni sekitar 15 persen.


Sedangkan mayoritas kepemilikan berada di tangan Korea Selatan. Trenggono juga mengatakan ada sembilan teknologi yang menurutnya tidak disediakan untuk Indonesia. Padahal, dengan mengirimkan insinyur ke Negeri Ginseng tersebut, diharapkan Indonesia bisa mendapatkan transfer teknologi.

 Situs Bolatangkas Terpercaya | Agen Bolatangkas Online | Bolatangkas Slot | Dewi Tangkas


No comments:

Post a Comment