Sunday, September 19, 2021

8 Ribu Anak Muda di 23 Negara Bergabung Dalam Aksi Besar Bersama Terkait Krisis Iklim

 

Dewi Tangkas - Panelis yang tergabung dalam acara Global Youth Letter: 8000 Rising, 9 September 2021


Sebanyak 8.000 anak muda dari 23 negara bergabung dalam aksi besar bersama British Council untuk menyuarakan suara mereka terkait krisis iklim. Inisiatif ini didasarkan pada pra-pertemuan COP26–Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-26 di Glasgow City yang akan dihadiri oleh seluruh pemimpin dunia pada November 2021.


Program Global Youth Letter: 8000 Rising diluncurkan tepat pada Kamis (9/9/2021) melalui acara "The Climate Connection: Youth Voices for Action". Dalam diskusi online yang diselenggarakan oleh British Council, kaum muda menyuarakan pandangan mereka tentang perubahan iklim.


Apa pemikiran mereka dalam gerakan dunia untuk mengatasi krisis akibat perubahan iklim?


Suara perempuan dan minoritas tidak boleh diremehkan dalam aksi iklim


Anam Zeb, Co-Founder of Climate Action Pakistan, menggarisbawahi seberapa sering perempuan dan minoritas dikesampingkan dalam proses pengambilan keputusan. Secara tradisional, menurut Anam, mereka dikecualikan dari sistem pengambilan keputusan skala besar, bahkan di masyarakat dan rumah tangga.


“Dan sering perwakilan minoritas dan perempuan yang ada hanya sebagai bentuk simbolik di mana tidak sebenarnya menunjukkan perasaan dan penemuan yang dirasakan orang-orang tersebut di kala perubahan iklim,” tambahnya.


Anam merasa bahwa pemikiran dan suara kelompok terpinggirkan ini harus didengar oleh semua orang tanpa memandang jenis kelamin atau ras. Menurutnya, banyak dari mereka, terutama perempuan, telah bergerak dan memberikan efek yang jauh lebih besar bagi kelestarian bumi.


Suara anak muda di belahan bumi selatan memiliki peran penting


Perubahan iklim, berdasarkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memang sebagian besar dirasakan oleh masyarakat di belahan bumi selatan. Dalam konteks inilah Heeta Lakhani, delegasi YOUNGO Global Focal Point menilai bahwa tindakan dan suara anak muda di belahan bumi selatan memiliki peran yang sangat penting.


Namun, Heeta menegaskan mereka tidak bisa bergerak sendiri.


"Aksi individu (anak muda) itu bagus, tapi tidak cukup. Kita membutuhkan aksi kolektif (bersama anak muda), kita perlu melihat pemerintah, kita perlu melihat perusahaan, membuat perubahan dan membuat itu dipercepat dari biasanya," katanya.


Heeta kemudian menjelaskan bahwa dirinya dan organisasinya YOUNGO berpartisipasi dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) dengan melibatkan kaum muda yang sebagian besar berasal dari belahan bumi selatan selama kurang lebih 10 tahun. Kaum muda yang terlibat, kata Heeta, telah berperan aktif dalam membantu pemulihan iklim dan kampanye untuk masyarakat luas.


Generasi muda harus dilibatkan sebagai pengambil keputusan


Kami bukan pemimpin masa depan, tapi kami sekarang adalah pemimpin. Itulah yang dipikirkan Jouja Maamri ketika ditanya tentang peran generasi muda dalam menangani masalah iklim.


Jouja, yang merupakan Director of Climate Philantrophy di Impatience Earth, merasa generasi muda saat ini harus dilibatkan sebagai pengambil keputusan. Ia mengatakan, generasi muda seharusnya tidak hanya menjadi forum konsultasi, tetapi harus terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan yang akan berdampak besar.


“Saya pikir ini adalah di mana kita harus mengakui untuk terlibat sebagai seorang pembuat keputusan,” ujarnya.


Jouja juga memberikan gambaran singkat tentang model politik Welsh yang berfokus pada kebijakan politik di masa sekarang untuk tidak membahayakan masa depan. Hal ini terutama terjadi dalam konteks kebijakan yang mempengaruhi iklim dan lingkungan.

No comments:

Post a Comment